Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Viral Kisah Catatan Perjalanan Anal Seks 1
Aopok.com - Garuda A 330-300 dengan nomor penerbangan 880 mendarat dengan mulus di Airport Narita, Kamis, 1 Agustus 2022, tepat jam 9:53 pagi waktu setempat. Jam tanganku yang masih setia mendisplay tanda waktu Jakarta menunjukkan angka 7:54 WIB, Aku melangkah perlahan dalam deretan panjang penumpang multi ras yang tak sabar untuk melepaskan kebosanan terbang berjam-jam dari Jakarta, di luar pesawat. Tepat di depanku sepasang Suami-Istri Japanese muda (atau kekasih) ribut mesra bagaikan sepasang cucakrowo.
Mataku langsung menangkap sosok si Pria yang lumayan tampan dengan badan atletis (jarang yang begini ini ditemui di antara pria-2 Skinny di Jepang). Sekali-2 si Pria menggerayangi pinggul dan pantat si gadis, sementara si gadis menggelendot manja sambil cekikikan. Antrian berjalan lambat dan adu piting di depanku makin seru seolah malam bagi keduanya. Aku terkesima melihat sedemikian ekspresifnya sang “sejoli” mengutarakan perasaannya, terlebih lagi di depan publik, dengan cueknya mereka saling menjawil, meraba, meluk, kissing dan .. ahh.. semoga teman-2 Japanese yang akan aku temui sehangat ini nantinya. Mengingat tempat sementaraku beraktifitas adalah Chiba Perfecture, yang masih asing bagi aku. Ehheemm..
“Ohayo Gozaimasu.. arigatoo!! (Selamat Pagi.. Terima kasih) ” Sapa pramugari di depan pintu keluar mengagetkanku. Sialan, apa tampangku seperti Japanese yang habis suntan (sampe gosong) di Bali apa? Aku masih bangga jadi orang Indonesia dengan dark skin-nya kok, buktinya waktu aku di Birmingham, setiap kali masuk G Bar, selalu dikelilingi Caucasians yg dalam setiap kesempatan selalu jadi admirers-ku! (nggak nyombong lho! J). Comment mereka selalu bahwa aku punya kulit yang bagus dan tidak kuning seperti Asian people lainnya. Yah aku sergah aja dengan “tentu aja, wong aku orang Indonesia!!”
Kedatanganku kali ini sudah diketahui oleh Kenji, tetapi aku minta agar dia tidak usah menjemputku karena aku bersama rombongan resmi, walaupun cuman berempat, selain itu dari Pihak OVTA (Overseas Vocational Training
Association), promotor kami (ceileh kayak mo tinju) telah menyiapkan jemputan bagi kami. Lagian aku kasihan pada Kenji yang harus jauh-2 dari Nagoya hanya sekedar datang untuk menjemputku dan setelah itu harus kembali lagi ke Nagoya.
Selesai pengecekkan keimigrasian, aku mengambil suitcase dan bergegas mengikuti teman-2 rombongan yang sudah mendahului menuju lobby. Sementara aku menandatangani tanda terima “uang saku” dari OVTA yang disodori Ms. Wakako, sekonyong-konyong terasa ada yang menarik lengan hemku. Ketika aku berpaling..
Artikel Terkait
KENJI berdiri disana dengan senyum lebar from ear to ear sehingga matanya nyaris tinggal segaris lurus!! Ah mata itu, aku demen buanget ama matanya yang berbentuk api lilin dengan kebeningan yang menyiratkan kehangatan dan kekocakkan yang tersimpan didalamnya.
Sesaat aku tercekat karena tidak berharap akan bertemu Kenji di Narita Airport. Instead of shake our heads (bowing maksudne), Kenji embraced me, dan aku bisa membaui kesegaran Gucci Envy yang jadi ciri Kenji. Damnn..!!
Anak ini ngangenin bener. Tapi tentu aja, aku harus tidak hanyut dalam gestures mencurigakan karena selain mata-2 Japanese yang melintas memandang curious, ada teman serombongan yang rata-2 ngablak dan asal njeblak jika, Lanjut baca!
Kisah Ngentot Anal Anak Majikan
Tradingan.com - Lima bulan sudah aku bekerja sebagai seorang pembantu rumahtangga di keluarga Pak Rahadi. Aku memang bukan seorang yang makan ilmu bertumpuk, hanya lulusan SD. Tetapi karena niatku untuk bekerja memang sudah tidak bisa ditahan lagi, akhirnya aku pergi ke kota Surabaya, dan beruntung bisa memperoleh majikan yang baik dan bisa memperhatikan kesejahteraanku. Sering terkadang aku mendengar kisah tentang nasib beberapa orang pembantu rumah tangga di kompleks perumahan. Ada yang pernah ditampar majikannya, atau malah bekerja seperti seekor sapi perahan saja.
Ibu Rahadi pernah bilang bahwa beliau menerimaku menjadi pembantu rumahtangganya lantaran usiaku yang relatif masih muda. Beliau tak tega melihatku luntang-lantung di kota metropolis ini. “Jangan-jangan kamu nanti malah dijadikan wanita panggilan oleh para calo WTS yang tak bertanggungjawab.” Itulah yang diucapkan beliau kepadaku.
Usiaku memang masih 18 tahun dan terkadang aku sadar bahwa aku memang cantik, berbeda dengan para gadis desa asalku. Pantas saja jika Ibu Rahadi berkata begitu terhadapku.
Namun akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, yakni tentang perlakuan Mas Rizal terhadapku. Mas Rizal adalah anak bungsu keluarga Bapak Rahadi. Dia masih kuliah di semester 6, sedangkan kedua kakaknya telah berkeluarga. Mas Rizal baik dan sopan terhadapku, hingga aku jadi rikuh bila berada di dekatnya. Sepertinya ada sesuatu yang bergetar di tubuhku. Jika aku ke pasar, Mas Rizal tak segan untuk mengantarkanku. Bahkan ketika naik mobil aku tidak diperbolehkan duduk di jok belakang, harus di sampingnya. Ahh.. Aku selalu jadi merasa tak nikmat. Pernah suatu malam sekitar pukul 20.00, Mas Rizal hendak membikin mie instan di dapur, aku bergegas mengambil alih dengan alasan bahwa yang dilakukannya pada dasarnya adalah tugas dan kewajibanku untuk bisa melayani majikanku. Tetapi yang terjadi Mas Rizal justru berkata kepadaku, “Nggak usah, Santi. Biar aku saja, agak apa-apa kok..”
“Nggak.. nggak apa-apa kok, Mas”, jawabku tersipu sembari menyalakan kompor gas.
Tiba-tiba Mas Rizal menyentuh pundakku. Dengan lirih dia berucap, “Kamu sudah capek seharian bekerja, Santi. Tidurlah, besok kamu harus bangun khan..”
Aku hanya tertunduk tanpa bisa berbuat apa-apa. Mas Rizal kemudian melanjutkan memasak. Namun aku tetap termangu di sudut dapur. Hingga kembali Mas Rizal menegurku.
“Santi, kenapa belum masuk ke kamarmu. Nanti kalau kamu kecapekan dan terus sakit, yang repot kan kita juga. Sudahlah, aku bisa masak sendiri kalau hanya sekedar bikin mie seperti ini.”
Belum juga habis ingatanku saat kami berdua sedang nonton televisi di ruang tengah, sedangkan Bapak dan Ibu Rahadi sedang tidak berada di rumah. Entah kenapa tiba-tiba Mas Rizal memandangiku dengan lembut. Pandangannya membuatku jadi salah tingkah.
“Kamu cantik, Santi.”
Aku cuma tersipu dan berucap,
“Teman-teman Mas Rizal di kampus kan lebih cantik-cantik, apalagi mereka kan orang-orang kaya dan pandai.”
Terkait
“Tapi kamu lain, Santi. Pernah tidak kamu membayangkan jika suatu saat ada anak majikan mencintai pembantu rumahtangganya sendiri?”
“Ah.. Mas Rizal ini ada-ada saja. Mana ada cerita seperti itu”, jawabku.
“Kalau kenyataannya ada, bagaimana?”
“Iya.. nggak tahu deh, Mas.”
Kata-katanya itu yang hingga saat ini membuatku selalu gelisah. Apa benar yang dikatakan oleh Mas Rizal bahwa ia mencintaiku? Bukankah dia anak majikanku yang tentunya orang kaya dan terhormat, sedangkan aku cuma seorang pembantu rumahtangga? Ah, pertanyaan itu selalu terngiang di benakku.
Tibalah aku memasuki bulan ke tujuh masa kerjaku. Sore ini cuaca memang sedang hujan meski tak seberapa lebat. Mobil Mas Rizal memasuki garasi. Kulihat pemuda ini berlari menuju teras rumah. Aku bergegas menghampirinya dengan membawa handuk untuk menyeka tubuhnya. Lanjut baca!
Cerita Akibat Nungging Wanita Ini Kena Anal Sex
Iklans.com - Istri sudah punya. Anak juga sudah sepasang. Rumah, meskipun cuma rumah BTN juga sudah punya. Mobil juga meski kreditan sudah punya. Mau apalagi? Pada awalnya aku cuma iseng-iseng saja. Lama-lama jadi keterusan juga. Dan itu semua karena makan buah terlarang.
Kehidupan rumah tanggaku sebetulnya sangat bahagia. Istriku cantik, seksi dan selalu menggairahkan. Dari perkawinan kami kini telah terlahir seorang anak laki-laki berusia delapan tahun dan seorang anak cantik berusia tiga tahun, aku cuma pegawai negeri yang kebetulan punya kedudukan dan jabatan yang lumayan.
Tapi hampir saja biduk rumah tanggaku dihantam badai. Dan memang semua ini bisa terjadi karena keisenganku, bermain-main api hingga hampir saja menghanguskan mahligai rumah tanggaku yang damai. Aku sendiri tidak menyangka kalau bisa menjadi keterusan begitu.
Awalnya aku cuma iseng-iseng main ke sebuah klub karaoke. Tidak disangka di sana banyak juga gadis-gadis cantik berusia remaja. Tingkah laku mereka sangat menggoda. Dan mereka memang sengaja datang ke sana untuk mencari kesenangan. Tapi tidak sedikit yang sengaja mencari laki-laki hidung belang.
Terus terang waktu itu aku sebenarnya tertarik dengan salah seorang gadis di sana. Wajahnya cantik, Tubuhnya juga padat dan sintal, kulitnya kuning langsat. Dan aku memperkirakan umurnya tidak lebih dari delapan belas tahun. Aku ingin mendekatinya, tapi ada keraguan dalam hati. Aku hanya memandanginya saja sambil menikmati minuman ringan, dan mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan pengunjung secara bergantian.
Tapi sungguh tidak diduga sama sekali ternyata gadis itu tahu kalau aku sejak tadi memperhatikannya. Sambil tersenyum dia menghampiriku, dan langsung saja duduk disampingku. Bahkan tanpa malu-malu lagi meletakkan tangannya di atas pahaku. Tentu saja aku sangat terkejut dengan keberaniannya yang kuanggap luar biasa ini.
“Sendirian aja nih.., Omm..”, sapanya dengan senyuman menggoda.
“Eh, iya..”, sahutku agak tergagap.
“Perlu teman nggak..?” dia langsung menawarkan diri.
Aku tidak bisa langsung menjawab. Sungguh mati, aku benar-benar tidak tahu kalau gadis muda belia ini sungguh pandai merayu. Sehingga aku tidak sanggup lagi ketika dia minta ditraktir minum. Meskipun baru beberapa saat kenal, tapi sikapnya sudah begitu manja. Bahkan seakan dia sudah lama mengenalku. Padahal baru malam ini aku datang ke klub karaoke ini dan bertemu dengannya.
Semula aku memang canggung, Tapi lama-kelamaan jadi biasa juga. Bahkan aku mulai berani meraba-raba dan meremas-remas pahanya. Memang dia mengenakan rok yang cukup pendek, sehingga sebagian pahanya jadi terbuka.
Hampir tengah malam aku baru pulang. Sebenarnya aku tidak biasa pulang sampai larut malam begini. Tapi istriku tidak rewel dan tidak banyak bertanya. Sepanjang malam aku tidak bisa tidur. Wajah gadis itu masih terus membayang di pelupuk mata. Senyumnya, dan kemanjaannya membuatku jadi seperti kembali ke masa remaja.
Terkait
Esoknya Aku datang lagi ke klub karaoke itu, dan ternyata gadis itu juga datang ke sana. Pertemuan kedua ini sudah tidak membuatku canggung lagi. Bahkan kini aku sudah berani mencium pipinya. Malam itu akau benar-benar lupa pada anak dan istri di rumah. Aku bersenang-senang dengan gadis yang sebaya dengan adikku. Kali ini aku justru pulang menjelang subuh.
Mungkin karena istriku tidak pernah bertanya, dan juga tidak rewel. Aku jadi keranjingan pergi ke klub karaoke itu. Dan setiap kali datang, selalu saja gadis itu yang menemaniku. Dia menyebut namanya Reni. Entah benar atau tidak, aku sendiri tidak peduli. Tapi malam itu tidak seperti biasanya. Reni mengajakku keluar meninggalkan klub karaoke. Aku menurut saja, dan berputar-putar mengelilingi kota Jakarta dengan kijang kreditan yang belum lunas. Lanjut baca!
Kisah Ngentot Istri Teman Lama Ku 2
Aopok.com - Waktu di jam dinding menunjukkan sudah pukul 8.00, namun Azis belum juga datang. Dalam hati kecilku, Jangan-jangan Azis mau bermalam di kampungnya, aku tidak mungkin bermalam berdua dengan istrinya di rumah ini. Saya lalu teriak minta pamit saja dengan alasan nanti besok saja ketemunya, tapi istri Azis berteriak melarangku dan katanya,
“Tunggu dulu pak, nasi yang saya masak buat bapak sudah matang. Kita makan bersama saja dulu, siapa tahu setelah makan Azis datang, khan belum juga larut malam, apalagi kita baru saja ketemu,” katanya penuh harap agar aku tetap menunggu dan mau makan malam bersama di rumahnya.
Tak lama kemudian, iapun keluar memanggilku masuk ke ruang dapur untuk menikmati hidangan malamnya. Sambil makan, kamipun terlibat pembicaraan yang santai dan penuh canda, sehingga tanpa terasa saya sempat menghabiskan dua piring nasi tanpa saya ingat lagi kalau tadi saya bilang sudah kenyang dan baru saja makan di rumah. Malu sendiri rasanya.“Bapak ini nampaknya masih muda. Mungkin tidak tepat jika aku panggil bapak khan? Sebaiknya aku panggil kak, abang atau Mas saja,” ucapnya secara tiba-tiba ketika aku meneguk air minum, sehingga aku tidak sempat menghabiskan satu gelas karena terasa kenyang sekali. Apalagi saya mulai terayu atau tersanjung oleh seorang wanita muda yang baru saja kulihat sepotong tubuhnya yang mulus dan putih? Tidak, saya tidak boleh berpikir ke sana, apalagi wanita ini adalah istri teman lamaku, bahkan rasanya aku belum pernah berpikir macam-macam terhadap wanita lain sebelum ini. Aku kendalikan cepat pikiranku yang mulai miring. Siapa tahu ada setan yang memanfaatkannya.
“Bolehlah, apa saja panggilannya terhadapku saya terima semua, asalkan tidak mengejekku. Hitung-hitung sebagai panggilan adik sendiri,” jawabku memberikan kebebasan.
“Terima kasih Kak atau Mas atas kesediaan dan keterbukaannya” balasnya.
Setelah selesai makan, aku lalu berjalan keluar sambil memandangi sudut-sudut ruangannya dan aku sempat mengalihkan perhatianku ke dalam kamar tidurnya di mana aku melihat tubuh terbaring tanpa busana tadi. Ternyata betul, wanita itulah tadi yang berbaring di atas tempat tidur itu, yang di depannya ada sebuah TV color kira-kira 21 inc. Jantungku tiba-tiba berdebar ketika aku melihat sebuah celana color tergeletak di sudut tempat tidur itu, sehingga aku sejenak membayangkan kalau wanita yang baru saja saya temani bicara dan makan bersama itu kemungkinan besar tidak pakai celana, apalagi yang saya lihat tadi mulai dari pinggul hingga ujung kaki tanpa busana. Namun pikiran itu saya coba buang jauh-jauh biar tidak mengganggu konsentrasiku.
Setelah aku duduk kembali di kursi tamu semula, tiba-tiba aku mendengar suara TV dari dalam, apalagi acaranya kedengaran sekali kalau itu yang main adalah film Angling Dharma yaitu film kegemaranku. Aku tidak berani masuk nonton di kamar itu tanpa dipanggil, meskipun aku ingin sekali nonton film itu. Bersamaan dengan puncak keinginanku, tiba-tiba, Baca selengkapnya!
Kisah Ngentot Istri Teman Lama Ku 1
Topoin.com - Kenalkan nama saya Anis, usia 40 tahun, berat badan 57 kg, rambut hitam lurus dengan warna kulit antara kehitaman dan kemerahan. Sejak kecil saa tergolong pendiam, kurang pergaulan dan pengalaman. Saya berasal dari keluarga yang hidup sederhana di suatu desa agak terpencil kurang lebih 3 km dari ibu kota kecamatanku. Saya dibesarkan oleh kedua orangtuaku dengan 5 saudara perempuanku. Jujur saja saya adalah suku B, yang ingin mengungkapkan pengalaman hidupku yang tergolong aneh seperti halnya teman-teman lainnya melalui cerita porno di internet.
Singkat cerita, setelah saya menikah dengan seorang perempuan pilihan orangtuaku, saya mencoba hidup mandiri bersama istri sebagai bentuk rasa tanggungjawab saya sebagai suami dan kepala rumah tangga, meskipun rasa cintaku pada istriku tersebut belum mendalam, namun tetap saya coba menerima kenyataan ini siapa tahu di kemudian hari saya kami bisa saling mencintai secara penuh, lagi pula memang saya belum pernah sama sekali jatuh cinta pada wanita manapun sebelumnya.
Kami coba mengadu nasib di kota Kabupatenku dengan mengontrak rumah yang sangat sederhana. Beberapa bidang usaha saya coba tekuni agar dapat menanggulangi keperluan hidup kami sehari-hari, namun hingga kami mempunyai 3 orang anak, nasib kami tetap belum banyak berubah. Kami masih hidup pas-pasan dan bahkan harapanku semula untuk mempertebal kecintaanku terhadap istriku malah justru semakin merosot saja. Untung saja, saya orangnya pemalu dan sedikit mampu bersabar serta terbiasa dalam penderitaan, sehingga perasaanku itu tidak pernah diketahui oleh siapapun termasuk kedua orangtua dan saudara-saudaraku.Entah pengaruh setan dari mana, suatu waktu tepatnya Bulan Oktober 2003 aku sempatkan diri berkunjung ke rumah teman lamaku sewaktu kami sama-sama di SMA dulu. Sebut saja namanya Azis. Dia baru saja pulang dari Kalimantan bersama dengan istrinya, yang belakangan saya ketahui kalau istrinya itu adalah anak majikannya sewaktu dia bekerja di salah satu perusahaan swasta di sana. Mereka juga melangsungkan perkawinan bukan atas dasar saling mencintai, melainkan atas dasar jasa dan balas budi.
Sekitar pukul 17.00 sore, saya sudah tiba di rumah Azis dengan naik ojek yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah kontrakan kami. Merekapun masih tinggal di rumah kontrakan, namun agak besar dibanding rumah yang kami kontrak. Maklum mereka sedikit membawa modal dengan harapan membuka usaha baru di kota Kabupaten kami. Setelah mengamati tanda-tanda yang telah diberitahukan Azis ketika kami ketemu di pasar sentral kota kami, saya yakin tidak salah lagi, lalu saya masuk mendekati pintu rumah itu, ternyata dalam keadaan tertutup.
“Dog.. Dog.. Dog.. Permisi ada orang di rumah” kalimat penghormatan yang saya ucapkan selama 3 kali berturut-turut sambil mengetuk-ngetuk pintunya, namun tetap tidak ada jawaban dari dalam. Saya lalu mencoba mendorong dari luar, ternyata pintunya terkunci dari dalam, sehingga saya yakin pasti ada orang di dalam rumah itu. Hanya saja saya masih ragu apakah rumah yang saya ketuk pintunya itu betul adalah rumah Azis atau bukan. Saya tetap berusaha untuk memastikannya. Setelah duduk sejenak di atas kursi yang ada di depan pintu, saya coba lagi ketuk-ketuk pintunya, namun tetap tidak ada tanda-tanda jawaban dari dalam. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba mengintip dari samping rumah. Melalui sela-sela jendela di samping rumahnya itu, saya sekilas melihat ada kilatan cahaya dalam ruangan tamu, tapi saya belum mengetahui dari mana sumber kilatan cahaya itu. Saya lalu bergeser ke jendela yang satunya dan ternyata saya sempat menyaksikan sepotong tubuh tergeletak tanpa busana dari sebatas pinggul sampai ujung kaki. Entah potongan tubuh laki-laki atau wanita, tapi tampak putih mulus seperti kulit wanita. Baca selengkapnya!
Cerita Ngewe Anal Janda Bidadari X 3
Aopok.com - Lala pun mulai terangsang kembali. Kemudian Mama Lala menyuruh Lala tidur terlentang. Lalu mengambil posisi misionaris untuk memerawani Lala dengan penis mainannya itu.
“Apa yang Mama lakukan?”, tanya Lala.
“Tenang saja sayang, kamu pasti senang.”, jawab Mama Lala sambil menggesek-gesekkan kepala penis mainan itu ke memek Lala.
Lala merasa nikmat saat memeknya digesek ujung mainan Mamanya. Apalagi Mamanya mulai melumat bibirnya lagi sambil tangannya memilin putingnya yang kini semakin keras.
“Aduuh.. sakiitt Maa.”, jerit Lala karena Mama mulai berusaha memasukkan penis itu ke memeknya.
“Cuma sebentar, nanti juga enak lagi.”, jawab Mama sambil memompa penis yang baru masuk kepalanya saja.
Lala mulai merasa enak bercampur sedikit perih. Sampai..
“AAKKH.. SAKIIT MAA..”, jerit Lala ketika Mamanya tiba-tiba menekan amblas hingga penis itu menjebol selaput daranya.
Mama Lala mendiamkan dulu gerakannya agar memek Lala terbiasa dengan penis besar itu. Dia pun mencium lagi bibir anaknya dan memainkan payudara anaknya agar Lala teralihkan rasa sakit akibat jebol keperawanannya. Ketika Lala sudah agak tenang, Mama Lala mulai memompa pelan-pelan.
“Aakh.. ii.. iiya Ma. Terus Ma.”, desah Lala ketika dia mulai merasakan nikmatnya seks walaupun masih ada sedikit rasa perih. Mama Lala pun merasa keasyikan tersendiri ketika dia berperan sebagai laki-laki dengan penis mainannya itu.
“Uukkhh.. enak Ma. Terusin Ma. Lala sayang Mama.”, desis Lala.
Lala memang merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan melebihi permainannya dengan Bombom. Mama Lala semakin bersemangat mendengar desahan Lala dan diapun makin mempercepat pompaannya di memek anaknya.
“He..he.. kamu suka khan dientot sama kontol Mama ini?”, kata Mama.
“Iiya Ma. Lala suka.”, jawab Lala.
“Suka ngapain? Ayo bilang. Kamu suka dientot sama kontol Mama ini. Ayo.”, perintah Mama Lala.
“Aakkh.. Lala suka.. aakh Lala suka dientot sama kontol Mama yang gede.”, jawab Lala yang mulai terhanyut dalam permainan Mamanya.
Mama Lala senang mendengar Lala ngomong jorok begitu, dan dia pun makin gencar melakukan tusukannya sambil diselingi goyangan agar Lala bertambah nikmat.
“Uukkh.. terus Ma. Enaakk.. aakkhh.”, desah Lala sambil menggoyang pinggulnya mengikuti irama pompaan Mamanya.
“Kamu memang lonte kecil. Lonte yang suka dientot sama kontol besar.”, kata Mama Lala yang semakin terangsang dengan ngomong yang jorok-jorok.
“Iya, Ma. Lala ini lonte yang senang dientot. aakkhh Entot terus Ma.”, jawab Lala meniru kata-kata Mamanya yang jorok.
Artikel Terkait
Mama Lala senang mendengar desahan dan ucapan jorok Lala. Dia menikmati melihat wajah Lala yang terangsang. Gadis cantik yang baru tumbuh dewasa itu terengah-engah keenakan. Kadang dia menggigit bibirnya menahan nikmat. Ekspresinya yang sedang terangsang membuat Lala semakin kelihatan cantik.
“Ma, Lala.. aakh.. Lala mau..”, desis Lala.
Melihat anaknya akan orgasme, Mama Lala mengangkat pantat Lala dan memompa Lala semakin cepat.
“Aakkhh.. Lala nyampe, Ma.”, erang Lala saat mencapai orgasmenya yang kedua. Lanjut baca!
Cerita Ngentot Anal Janda Bidadari X 2
Topoin.com - “Huh.., bete banget deh” sungut Lala sambil mematikan TV.
Sekarang Lala sedang sendirian di rumah. Sudah seminggu ini, Papa Lala tugas keluar kota dan rencananya baru pulang minggu depan. Mama Lala sedang pergei arisan di rumah temannya. Bombom juga pergi menginap di rumah temannya. Pembantu mereka pulang kampung menjenguk keluarganya yang sakit. Ibu peri juga jarang menjenguk Lala. Bosan menonton TV, Lala lalu pergi ke kamarnya di lantai dua.
“Coba Bombom nggak pergi, kita bisa main kayak kemarin dulu” pikir Lala.
Memang sejak pengalaman oral seksnya dengan Bombom (baca Bidadari X – 1), Lala sering mengulangi perbuatannya dengan Bombom. Tentu saja diam-diam kalo Mama dan Papa Lala lagi nggak ada dirumah. Bahkan Ibu peri pun tidak Lala beri tahu tentang aktivitasnya yang satu ini.
Lala berdiri di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Kemudian dia melepas pakaian, BH, dan celana dalamnya. Sekarang Lala telanjang bulat sambil memandang dirinya sendiri di cermin. Lala memandangi wajahnya yang cantik manis, kulitnya yang putih mulus, dadanya yang baru tumbuh dengan puting mencuat gara-gara bombom sering gemas kalo mengulum puting itu, dan vaginanya yang terawat dengan bulu-bulu halus yang masih jarang.
“Uuhh.., enak.”, desah Lala sambil tangannya yang kiri mengelus lembut dadanya sendiri.
Sesekali dipilinnya putingnya sambil membayangkan kalo Kak Rendi yang sedang melumat putingnya itu. Tangan kanannya juga tidak Lala biarkan menganggur tetapi sibuk mengusap lembut vaginanya terutama bagian agak menonjol yang bernama klitoris seperti yang sudah dipelajari Lala dalam pelajaran anatomi tubuh manusia di sekolah. Lala merasa nikmat sekali bila klitorisnya diusap-usap, apalagi kalo dihisap mulutnya bombom. Mata Lala terpejam, kelihatannya dia asyik menikmati perbuatannya itu sampai Lala tidak menyadari kalo ada seseorang membuka pintu kamarnya.
“LALA! Apa yang kamu lakukan?!”
Lala kaget sekali. Dia segera menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke pintu kamarnya. Ternyata disana sudah berdiri Mama Lala dengan wajah yang kelihatannya sangat marah.
“Mmaa.. Ma”, kata Lala sambil ketakutan.
“Ehm ternyata kalo lagi sendirian, kamu sering melakukan perbuatan kurang ajar seperti ini ya?!”, cibir Mama Lala.
“Mm.. maafin Lala, Ma”, jawab Lala ketakutan sambil berusaha menutupi dada dan kemaluannya.
Mama Lala mendekat sambil memandang Lala yang masih telanjang.
“Ehm.. anak kurang ajar ini rupanya sudah tumbuh jadi gadis yang cantik sekali. Sekarang aku punya kesempatan mencoba oleh-oleh dari temenku dari Belanda sambil mempraktekan apa yang kulihat dari VCD kemarin.”, pikir Mama Lala dalam hati.
“Kamu akan Mama hukum. Sekarang tunggu disini dan jangan pakai bajumu. Kalo kamu tidak mau menurut sama Mama, akan Mama beritahukan perbuatan kamu ini ke Papa.”, kata Mama Lala sambil keluar kamar.
Artikel Terkait
“Iya, Ma.”, jawab Lala pelan.
Lala takut sekali kalo Mama mengadukan dia ke Papa. Lala berpikir hukuman apa yang akan dijatuhkan Mama. Apa dia akan dipukul? Tapi Lala berpikir lebih baik dipukul daripada diadukan ke Papa.
Tak lama kemudian Mama Lala kembali dengan hanya memakai kimono sambil membawa sebuah kotak. Mama menyuruh Lala berdiri mendekat. Kemudian Mama melepas kimononya. Lala kaget, ternyata Mamanya tidak memakai apa-apa di balik kimononya. Diam-diam Lala kagum terhadap Mamanya yang jelas merawat tubuhnya dengan baik. Lala mengamati wajah Mamanya yang masih cantik, tubuhnya yang masih langsing dan bagus, dadanya juga indah, besar tapi tidak turun dan masih padat, dan vagina Mamanya ternyata bulunya dicukur habis. Lanjut baca!
Cerita Ngentot Anal Janda Bidadari X 1
Tradingan.com - Pagi itu seperti biasanya Lala bangun dari tidurnya. Sinar mentari dari jendela kamarnya telah menyilaukan matanya dan membuatnya bangun.
“Wah, kesiangan nih!” ujar Lala menggerutu.
Segera saja gadis kecil itu beregegas menuju kamar mandi. Setelah menanggalkan semua pakaiannya ia pun mulai menyirami seluruh tubuhnya. Lalu menyabuni satu persatu anggota tubuhnya mulai dari bagian atas hingga bawah. Ketika ia menyentuh bagian vitalnya, ia terkejut karena merasakan ada sisa cairan yang sudah mengering. Tapi ia tetap meneruskan mandinya. Ia buru-buru sekali pagi itu.
Sesampainya di sekolah semuanya berjalan seperti biasa. Pelajaran yang membosankan, guru yang menyebalkan, dan semua yang membuatnya jenuh. Hal itu tetap dijalani Lala dengan hati yang lapang. Namun sewaktu istirahat, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Lala, yaitu ketika anak laki-laki di kelasnya berkumpul di pojok belakang kelas dan tersenyum senyum sendiri sembari membolak balik sebuah buku yang terkesan disembunyikan. Karena penasaran, Lala mendekati mereka dan menanyakan perihal tersebut.
“Eh, kalian lagi baca apaan sih?”, tanya Lala penasaran.
“Oh kamu La?!, mau tau aja bacaan cowok. Sana pergi!”Jawab Bombom mewakili kerumunan anak cowok itu.
Lala semakin penasaran. Namun ia tak kuasa untuk memaksakan keingintahuannya itu. Dengan berat hati, ia beranjak pergi meninggalkan kelas.
Ketika pulang sekolah, Lala langsung menuju kamarnya. Entah mengapa rasa penasarannya belum hilang juga. Sewaktu ia sedang merebahkan dirinya di kasur mendadak Ibu peri datang.
“Ada apa sayang? Kok kamu gelisah gitu?”, tanya Ibu peri.
“Bu peri, Lala masih penasaran sama kejadian tadi siang. Lala pengen tau apa sih yang mereka baca sampe Lala nggak boleh lihat”, ujar Lala lirih.
“Sayang, mereka itu membaca buku yang tidak baik. Buku bacaan buat orang dewasa. Untunglah kamu tidak ikut membacanya”, jawab Ibu peri sembari tersenyum.
“Emangnya buku apaan sih?”, tanya Lala lagi.
“Ntar kalau kamu udah gede, kamu akan mengerti sendiri”, balas Ibu peri.
Lala mengangguk, lalu Ibu peri menghilang dari pandangan Lala. Tak lama kemudian terdengar suara Bi Inem memanggil Lala untuk segera turun makan.
Keesokan harinya di sekolah, Lala menerima pelajaran Biologi di kelas. Hari itu mereka belajar mengenai sistem reproduksi manusia. Sewaktu Ibu guru menjelaskan mengenai alat-alat reproduksi manusia, sekelompok anak lelaki tampak tersenyum cengengesan. Hal itu membuat Lala menjadi risih. Mendadak Ibu guru memnggil namanya.
“Lala, coba kamu maju ke depan. Gambarkan alat reproduksi laki-laki!”, ujar Ibu guru.
“Saya Bu?”Jawab Lala gelagapan.
“Iya, kamu!”, Bu guru mempertegas suaranya.
Sontak saja suasana kelas menjadi riuh. Anak lelaki semuanya menertawakan Lala. Hal itu membuat Lala semakin grogi dan gemetaran untuk maju ke depan.
“Kenapa kalian tertawa?”, suara Bu guru memecah keramaian.
Anak-anak terdiam. Mereka menundukkan muka masing-masing. Sementara Bombom cs masih terlihat menahan senyum sembari saling melihat satu sama lain. Bu guru menjadi kesal dibuatnya.
Artikel Terkait
“Coba kamu Bom, maju ke depan. Gambarkan alat reproduksi wanita beserta fungsinya!”, ujar Bu guru lantang.
“I.. iya Bu”, jawab Bombom dengan kesal.
Lala dan Bombom lalu maju ke depan kelas. Keduanya tampak bingung karena tak tau harus menggambar apa. Terutama Lala, jangankan menggambar, melihat saja ia belum pernah. Sementara Bombom, walaupun ia pernah melihat gambar porno, tetapi ia bingung bagaimana cara menggambarkannya di depan tanpa terkesan vulgar. Di saat keduanya terdiam, bel sekolah mendadak berbunyi menyelamatkan mereka. Wajib baca!








No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...